Industri Pertanian

Menyongsong Industrialisasi Pertanian

Para pakar dunia khususnya dalam bidang pertanian memprediksi bahwa angka kelaparan dunia akan semakin meningkat. Bahaya ini jika tidak diatisipasi akan mengakibatkan ketidakharmonisan masyarakat dunia dan akan menyebabkan peperangan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, bangsa-bangsa di dunia lewat FAO mengadakan pertemuan dan kemudian menyetujui bahwa olusi yang dilakukan adalah dengan meningkatkan produksi pertanian. Langkah tersebut kemudian direspon oleh wakil presiden Indonesia, Boediono. Wapres menyatakan bahwa Indonesia siap menjadi lubung padi dunia yang siap memenuhi kebutuhan pangan dunia. Melalui Undang- Undang No 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, Boediono menyatakan optimis bahwa produksi pertanian Indonesia dapat ditingkatkan. Dalam undang-undang tersebut memberikan peluang besar bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Konsep yang ingin dibangun adalah bahwa para pengusaha asing tersebut nantinya akan ikut memberdayakan para petani melalui pemanfaatan lahan pertanian milik petani local. Berkaca dari keberhasilan penanaman modal di sector sawit, wapres berkeinginan pula untuk menerapkannya pada tanaman padi. Produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia naik pesat.  Pada 2004 produksi CPO sekitar 10,8 juta ton, tahun 2009 diperkirakan 19,4 juta ton. Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi bahkan menyatakan, produk kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang menjadi pengungkit nilai ekspor. Ekspor komoditas perkebunan tahun 2004 hanya 8,26 miliar dollar AS dan tahun 2009 diperkirakan 24,5 miliar dollar AS. Namun, sejumlah kalangan menilai bahwa industrialisasi minyak sawit tidak membawa banyak berkah bagi petani dan konsumen, apalagi petani plasma dengan nilai tawar rendah. Lebih ironis lagi, saat tahun 2007/2008 harga komoditas sawit melesat, warga justru kelimpungan tidak mampu menjangkau kenaikan harga minyak goreng. Kondisi yang tak jauh beda dialami komoditas gula. Agar semua program tersebut dapat berjalan, para analis pertanian di Indonesia menyatakan bahwa semuanya tergantung kepada pemerintah. Kemajuan industrialisasi pertanian harus didukung pula dengan pemberadayaan petani dengan baik. Jangan sampai lagi-lagi petani menjadi korban kekejaman investor asing dengan merampas tanah garapan mereka. Petani-petani harus mendapatkan pembinaan yang baik dari pemerintah dan harus ada pelibatan di dalam organisasi /asosiasi petani. Pemerintah melalui departemen pertanian harus mampu membina SDM yang baik dalam hal pengelolaan industry pertanian. Asosiasi petani tersebut diharapkan bias menjadi corong ekonomi dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani Indonesia. Melalui organisasi petani yang baik, para petani akan semakin kuat jika di suatu hari nanti dihadapkan dengan kekuatan pemodal asing.

2 thoughts on “Industri Pertanian

  1. Bahasanya berat. Amanah ke depan buat Nasru setelah berbekal ilmu TP untuk diaplikasikan. Harapannya sebagai salah satu solusi mengurangi angka kelaparan khususnya di Idonesia timur yang SDA lumayan ada namun kurang terkelola dengan profesional.

  2. @Ditya:Yup, tepat dit, moga besok bisa memberikan kemanfaatan bagi umat. kuncinya sebenernya ada pada kemauan di tingkat birokrat untuk memperbaiki keadaan dan meminimalisasi pengeluaran APBN dan mengalihkannya untuk sebesar2nya kepentingan rakyat.^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s