Semenjak hari itu

Entah kenapa kata-kata seorang ulama Mesir itu kembali terbersit dalam alam bawah sadar, “kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia”.. Sebenarnya sejak dulu udah mulai sibuk sih, cuma akhir-akhir ini nampak kelihatan sibuk banget. Aktifitas kuliah sebenarnya sudah sangat jarang (bukan jarang berangkat lho, tapi mata kuliah sudah tinggal sedikit yang diambil),tinggal beberapa revisi sana sini saja, mungkin ntar ditambah dengan aktivitas ambil data dan yang lain. Nah, yang paling banyak menyita waktu jelas aktivitas diluar kuliah. Organisasi tempat berkarya menjadi semakin sibuk. Ternyata masih banyak rencana-rencana dan pekerjaan-pekerjaan yang masih perlu perhatian lebih. Untuk mengurusi itu semua tentu melakukan aktivitas rapat udah biasa dilakukan. Kalau dihitung-hitung, ekstrimnya selama sepekan ternyata bisa nyampe lima kali rapat ~__~ hohooo.

Bikin pegel banget tuh, apalagi nih pikiran bener-bener tersita. Pembahasan dari hari ke hari bukannya makin selesai, tapi malah makin nambah aja. Wah wah betapa urusan umat ini emang begitu banyak yak..? gag ngebayangin berapa banyaknya pekerjaan para pemangku jabatan di tingkat atas sana kalau pas ngurusin negara, wah mesti sibuk banget tuh. Okay, kembali ke celotehku, persoalan sibuk kayak gini sebenarnya sudah hal yang lumrah bagi seorang aktivis, apalagi yang menjadi aktivis dakwah spesifiknya lagi aktifis dakwah sekolah.hehehe….biasanya sih setelah 5 kali syuro kayak gitu Continue reading “Semenjak hari itu”

mengenal lebih dekat sebuah nilai seni

Beberapa waktu terakhir ini merasa sedang kering asupan seni dan budaya. Hanya berkutat pada tugas-tugas membuat pikiran selalau kaku dan fokus yang berlebihan. Setelah dipikir-pikir ternyata ruang hati ini membutuhkan kelembutan se
ni sastra dan syair-syair penggugah jiwa. Langsung saja kuputuskan hari itu untuk ke Perpustakaan Pusat UGM. Alhamdulillah telah terobati dengan kutemukannya syair dan novel Kahlil Gibran. wah senang banget, karena ini pertama kali datang ke perpus untuk meminjam buku fiksi novel, biasanya nih tentang ilmu manajemen, beberapa referensi keteknikan (halah…^^). Judul karya sastra ini adalah “Trilogi Cinta Abadi”, mungkin sudah sering terdengar mengingat novel ini sudah terkenal. Ada petikan hikmah yang ku dapat di sana, diantara nya tentang sebuah kisah berjudul SANG NABI.
Dalam kisah tersebut diceritakan dengan nada yang sangat soft, penuh dengan nuansa emosional. Ya, Sang nabi yang menjadi tokoh dalam kisah tersebut mengungkapkan akan kerinduan terhadap tanah kelahirannya. Bertahun-tahun ia telah menunggu sebuah kapal yang datang menjemputnya. Hingga pada suatu saat, waktu yang dinanti-nanti itu tiba. Ia sebenarnya cukup ragu untuk meninggalkan pulau yang telah merawatnya itu, dimana di sana ia bisa berbagi dan banyak memberi pencerahan atas hikmah-hikmahnya. Luar biasa, ia telah membangun sebuah spirit kemanusiaan yang telah lama mati. Banyak orang telah berguru dan mendapat nuansa kehidupan baru, sungguh luar biasa. Pernah suatu ketika, ia ditanya oleh seorang wanita yang sudah berputra,
buku trilogi cinta abadi

wanita itu berkata, “ Bicaralah tentang Anak-anak. “ Continue reading “mengenal lebih dekat sebuah nilai seni”