Beginikah Jatuh Cinta?

“Saya haturkan beribu terima kasih kepada Guru kami, Pak Cahyadi Takariawan yang begitu banyak kami dapati inspirasi dari beliau, izinkan saya menuliskan catatan beliau yang pernah ditulis dalam rubrik di kompasiana”

Sakitnya sakit, tidak ada yang lebih sakit daripada orang yang jatuh cinta. Begitu penggal pertama lagu tersebut. Luar biasa mengharu biru cara mengungkapkannya. Jatuh cinta justru dikatakan sebagai sakit yang paling sakit. Beberapa kalangan pujangga menyebutkan jatuh cinta itu adalah derita tanpa akhir. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, bepergian tidak nyaman, di rumah pun bingung.

Seorang ulama besar, Ibnul Qayyim al-Jauzy menyatakan, “Jika engkau ingin tahu tentang siksaan pemburu dunia, maka renungkanlah keadaan orang yang sedang didera rasa cinta“. Hal ini menggambarkan, betapa para pemburu kenikmatan dunia justru berada dalam kondisi yang kontradiktif, karena jatuh cinta justru membuat mereka menjadi sakit.

Seorang penyair mengungkapkan :

Tidakkah di dunia ini ada orang yang lebih menderita dari pencinta

Meski ia mendapatkan cinta ini manis rasanya

Engkau lihat ia selalu menangis pada setiap keadaan

Karena takut berpisah, atau takut karena rindu mendalam

Ia menangis jika berjauhan, sebab didera kerinduan

Ia menangis pula saat berdekatan, sebab takut perpisahan

Air matanya mengalir saat bertemu

Air matanya mengalir saat berpisah

Sakit, bukan? Bahkan seperti menyiksa diri. Saya pun menemukan sebuah puisi berjudul “Cinta, Derita Tiada Akhir” yang mengungkapkan rasa sakit ini, di blog Fienangels (fienangels.blogspot.com/2008/10/cinta-derita-tiada-akhir.html). Puisi yang menggambarkan dengan jelas, betapa sakitnya cinta.

Kau hancurkan benteng pertahananku dan kau penjarakan aku dengan cintamu

Kini kau pergi begitu saja meninggalkanku sebagai tawanan perang

Kepedihan menyeruak masuk mengiris hatiku

Terpaksa kuterima karena perisaiku tak mampu lagi menghalangi

Menusuk jantungku dengan kejam dan sadis

Luka yang ditorehkan begitu dalam

Air mata tak lagi kurasa padahal masih mengalir turun

Aku tak mengerti kenapa ini terjadi

Aku si penakluk cinta, sudah kalah

Keluar sebagai pecundang dalam perang tak berwujud

Sakitnya begitu nyata

Ingin kupaksa keluar bersama setiap helaan nafasku

Tapi bagaimana bisa, kalau bahkan nafas saja tak lagi kurasakan

Semangatku, asaku, warna kehidupanku, semua buyar

Mataku tak bisa lagi menatap dunia yang luas

Bukan karena dunia tampak kosong

Bukan..bukan karena kekosongan

Suram dan buram, cuma itu yang terlihat saat ku memandang segala arah

Jadi ini yang namanya cinta

Deritanya tiada akhir

Luar biasa penderitaan dan sakit yang muncul karena jatuh cinta. Ungkapan puisi tersebut memperkuat “laraning lara” dalam lagu Wuyung. Coba perhatikan penggalan kalimat puisi ini, “Menusuk jantungku dengan kejam dan sadis / Luka yang ditorehkan begitu dalam”.

Lebih jelas lagi, tergambar dalam penggal terakhir puisi tersebut. “Jadi ini yang namanya cinta / Deritanya tiada akhir”.

Maka, hati-hati menjaga hati. Jangan cepat jatuh cinta. Jangan cepat terpedaya. Bentengi diri dengan iman yang kuat. Jaga diri dengan akhlak mulia.
(http://sosbud.kompasiana.com/2012/06/10/laraning-lara-beginikah-jatuh-cinta/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s