Hobi apa hobi nih? [penasaran]

“Hobi kamu apa Bud”? tanya seorang temannya bernama Andi. “Hobiku?belajar, dan mempelajari hal-hal baru”, jawab Budi penuh semangat. Keduanya adalah pelajar sekolah menengah atas di salah satu Sekolah unggulan di Yogyakarta. Bagi Budi, belajar adalah sebuah hal yang teramat menyenangkan dan mengasyikkan. Kenapa asyik? karena dengan belajar tentunya akan mendapat ilmu baru, pengetahuan baru, dan tentunya akan semakin mudah untuk menjalani hidup (*walau tidak semata2 dengan ilmu saja orang akan merasa bahagia). Berkebalikan dengan kondisi Andi. Anak ini senantiasa kesulitan dalam belajar, terkadang ilmu begitu susah masuk ke otaknya, bahkan untuk bisa cemerlang menguasai ilmu harus diulang sampai sekian kali. Akhirnya Andi meminta saran dan rahasia biar belajarnya oke kepada Budi. Dengan senang hati Budi memberi masukan saran.
“Ndi, kamu perlu tau nih kalau menuntut ilmu itu butuh perjuangan” kata Budi kepada Andi.”Ente tau to siapa tuh orang kepercayaan zamannya Nabi Muhammad masih hidup?”, tanya Budi. “Emang siapa Bud?”, tanya Andi penuh keheranan. “Ali bin Abi Thalib”, jawab Budi dengan bangga dan sedikit tersenyum. “Ali pernah ngasih wasiat neeh, tentang menuntut ilmu”. Lalu Andi semakin penasaran. “Apa coba Bud, sebutin donk!” pinta Andi.
“Oke,pertama menuntut ilmu itu butuh sifat rakus. Loh kok rakus? iya, rakus disini maksudnya terhadap ilmu. Sang pencari ilmu kudu punya keinginan kuat buat menguasai segala macam ilmu, nah itu namanya rakus dalam berilmu. Hanya rakus dalam berilmu yang dibolehin” .

“Kedua, butuh waktu yang panjang. Udah gag jaman lagi belajar SKS (*sistem kebut semalem) atau SKSS (*sistem kebut setelah subuh). Menuntut ilmu yang bener jelas butuh proses yang panjaaaang. Kita bisa kayak gini kan juga diawali dari SD, nah hitung aja sampe sekarang udah berapa taun tuuh. So, yang dibutuhin di sini adalah sifat sabar! you know?dan tentu sifat konsisten dan komitmen. Gag boleh berhenti dan merasa puas dengan pencapaian yang baru sedikit (*nyambung dengan rakusnya mencari ilmu).

“terus yang ketiga apa Bud?”. “yang ketiga neeh, lumayan berat buat kita-kita yang agak kekurangan, balas Budi. Menuntut ilmu butuh biaya banyak.Enggak salah jika ada pepatah jawa bicara, jer basuki mowo bea, Budi menambahkan. Tapi anehnya ya negeri ini, udah tau gitu biaya pendidikan masih aja mahaaaaalnya selangit, apalagi nih yang udah di perguruan tinggi! Swasta dan negeri sama aja mahalnya!.

“terus yang terakhir nih Ndi, puenting juga. Kalau menuntut ilmu itu kudu deket sama guru. Kalau perlu datengin rumahnya, silaturahim dan banyak2 diskusi dengan guru kita, niscaya ilmu itu akan mudah tertransfer.he he heee..kadang bisa dikasih makanan kalau kita maen ke rumah guru kita..hahaa *maunya!

“berat ya Bud, jadi pelajar.kudu itu dan ini. Hmm,..(Andi manggut-manggut). “iya emang kelihatannya gitu Ndi, tapi taulah kalau orang yang menuntut ilmu dengan kesungguhan, niscaya Alloh bakal memudahkan baginya jalan ke syurga , jadi optimis saja Ndi! kamu bisa, kamu pasti bisa(*lagu sea games ) lanjut Budi.


“salam dari Budi dan Andi untuk seluruh pelajar Indonesia, janga pernah ragu untuk melangkah, jangan takut salah, dan teruslah berbuat untuk waktu yang kau miliki” ”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s