Intelektual Kulon progo dan fenomena Brain Drain

Kulon Progo merupakan bagian dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang tepat berada di bagian paling barat dan berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah. Tidak seperti Sleman atau Bantul, posisi Kulon Progo seakan terisolir dari peradaban kota dan wilayah strategis lainnya. Sesungguhnya, wilayah ini pun kaya akan potensi alamnya yang indah, namun sekali lagi kemajuan suatu daerah tak hanya didasarkan pada SDA-nya saja, tapi peran SDM pun harus lebih dimaksimalkan lagi.

Brain Drain dan kalangan intelektual

Brain drain hanyalah sebuah istilah yang menggambarkan tentang fenomena tenaga kerja di suatu daerah yang memilih meninggalkan daerahnya untuk mendapat kondisi welfare (kesejahteraan yang lebih) di daerah yang lain. Fenomena brain drain ini sudah bukan sesuatu yang baru. Contoh yang nyata adalah negara India dan China. Banyak lulusan India yang bersekolah di Harvad atau di negara-negara maju lainnya. Perlu diketahui kawan, bahwa India adalah jagonya ahli-ahli IT dan keteknikan tingkat dunia. Sudah banyak lulusan cerdas dari anak-anak India, namun yang terjadi adalah mereka ‘enggan’ untuk kembali ke daerah asalnya. Mengapa demikian? Simpel saja, karena di daerah asalnya mereka tidak mendapatkan penghargaan sebagai intelektual. Tidak ada jaminan kesejahteraan yang lebih layak dari pemerintahnya. Secara pragmatis, tentu saja mereka memilih keluar dari daerahnya untuk bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional di Amerika. China pun demikian, mereka lebih memilih untuk hidup di negara yang menjamin hak-hak pribadi mereka, dan di pemerintahan yang menghargai karya intelektual mereka. hal ini juga berlaku di negeri kita, Indonesia. Tentu ingatan kita masih lekat akan sosok intelektual bangsa, B.J.Habibie. Sosok yang sungguh luar biasa kehebatan pemikirannya. Karya hebat beliau salah satunya tentang POSTULAT HABIBIE. Namun saudaraku, mengapa beliau lebih memilih di Jerman ketimbang di Indonesia…? yap, di Jerman beliau menjadi orang kehormatan dan menjadi penasehat salah satu perusahaan pesawat terbang terbesar seperti Boeing. Nah, ternyata penghargaan sosok ilmuwan di negeri kita masih terlalu rendah, pantas saja mereka memilih jalan untuk mengabdi di negara lain.

Intelektual Kulon Progo, Kemana kah??

Dalam satu kesempatan, ada seorang yang diterima secara bersamaan untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di kedinasan Kulon Progo dan kementrian RI di Jakarta. Bingung, antara idealisme dan pragmatisme. Maka orang tersebut memilih kementrian di jakarta sebagai profesinya. Mengapa bukan yang di Kabupaten KP..? tentu jawabannya sudah dpt dpastikan, coba bandingin antara gaji daerah dan gaji di tingkat nasional, belum lagi tunjangan-tunjangannya. Saya tidak ingin menyalahkan pemerintah daerah, tapi hanya ingin mengingatkan saja, jika pemda tidak segera melakukan aksi untuk menghargai para intelektualnya, tentu setiap tahun daerah kita akan begitu mudah nya ditinggalkan orang-orang pintarnya. Coba lihat deh, seberapa banyak pemda memberi fasilitas penelitian dan proyek-proyek yang melibatkan intelektual asli daerah.? seberapa banyak tindakan nyata untuk mendata dan merangkul para intelektual mudanya?? sebuah PR buat pemerintah untuk KP maju dan berperadaban.🙂

2 thoughts on “Intelektual Kulon progo dan fenomena Brain Drain

  1. Perlu keselarasan semua pihak, harapannya pemerintah yang lebih jeli dengan potensi daerah maupun kapabilitas warganya sendiri
    Membangun West Prog lebih baik, alhamdulillah kemarin daerah kami no 2 yg menang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s