Musik itu Halal kok, jika………..

Musik Haram…? yang lain ada yang mengatakan bagian dari nyanyian setan. Waduh, kok parah banget. Terus bagaimana dengan yang dengerin musik, yang mainkan musik? haram juga kah. Hmmm, sebegitu mutlaknya kah bahwa musik itu haram dan harus dibuang jah-jauh dari peradaban islam…?bagaimana dengan nyanyian yang berisi syair-syair islami? Apakah juga haram? nah, utnuk sedikit mengobati rasa ingin tau, maka saya nukil kan dari (pak) muhshodiq.wordpress.com dari buku Dr. Yusuf Qardhawi, Fatwa-fatwa Kontemporer (Gema Insani Press) tentang batasan-batasan musik yang diperbolehkan. Berikut ini keterangannya.

1. Tema atau isi nyanyian harus sesuai dengan ajaran dan adab Islam.
Nyanyian yang berisi kalimat “dunia adalah rokok dan gelas arak” bertentangan dengan ajaran Islam yang telah menghukumi arak (khamar) sebagai sesuatu yang keji, termasuk perbuatan setan, dan melaknat peminumnya, pemerahnya, penjualnya, pembawa (penghidangnya), pengangkutnya, dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Sedangkan merokok itu sendiri jelas menimbulkan dharar.
Begitupun nyanyian-nyanyian yang seronok serta memuji-muji kecantikan dan kegagahan seseorang, merupakan nyanyian yang bertentangan dengan adab-adab Islam sebagaimana diserukan oleh Kitab Sucinya:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya …” (An Nur: 30)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya …” (An Nur: 31)
Dan Rasulullah saw. bersabda:
“Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah risiko bagimu.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Demikian juga dengan tema-tema lainnya yang tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran dan adab Islam.

2. Penampilan penyanyi juga harus dipertimbangkan.
Kadang-kadang syair suatu nyanyian tidak “kotor,” tetapi penampilan biduan/biduanita yang menyanyikannya ada yang sentimentil, bersemangat, ada yang bermaksud membangkitkan nafsu dan menggelorakan hati yang sakit, memindahkan nyanyian dari tempat yang halal ke tempat yang haram, seperti yang didengar banyak orang dengan teriakan-teriakan yang tidak sopan.
Maka hendaklah kita ingat firman Allah mengenai istri-istri Nabi saw.:
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yeng ada penyakit dalam hatinya …” (Al Ahzab: 32)

3. [Tidak berlebih-lebihan]
Kalau agama mengharamkan sikap berlebih-lebihan dan israf dalam segala sesuatu termasuk dalam ibadah, maka bagaimana menurut pikiran Anda mengenai sikap berlebih-lebihan dalam permainan (sesuatu yang tidak berfaedah) dan menyita waktu, meskipun pada asalnya perkara itu mubah? Ini menunjukkan bahwa semua itu dapat melalaikan hati manusia dari melakukan kewajiban-kewajiban yang besar dan memikirkan tujuan yang luhur, dan dapat mengabaikan hak dan menyita kesempatan manusia yang sangat terbatas. Alangkah tepat dan mendalamnya apa yang dikatakan oleh Ibnul Muqaffa’: “Saya tidak melihat israf (sikap berlebih-lebihan) melainkan disampingnya pasti ada hak yang terabaikan.”
Bagi pendengar – setelah memperhatikan ketentuan dan batas-batas seperti yang telah saya kemukakan – hendaklah dapat mengendalikan dirinya. Apabila nyanyian atau sejenisnya dapat menimbulkan rangsangan dan membangkitkan syahwat, menimbulkan fitnah, menjadikannya tenggelam dalam khayalan, maka hendaklah ia menjauhinya. Hendaklah ia menutup rapat-rapat pintu yang dapat menjadi jalan berhembusnya angin fitnah ke dalam hatinya, agamanya, dan akhlaknya.
Tidak diragukan lagi bahwa syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan ini pada masa sekarang sedikit sekali dipenuhi dalam nyanyian, baik mengenai jumlahnya, aturannya, temanya, maupun penampilannya dan kaitannya dengan kehidupan orang-orang yang sudah begitu jauh dengan agama, akhlak, dan nilai-nilai yang ideal. Karena itu tidaklah layak seorang muslim memuji-muji mereka dan ikut mempopulerkan mereka, atau ikut memperluas pengaruh mereka. Sebab dengan begitu berarti memperluas wilayah perusakan yang mereka lakukan.
Karena itu lebih utama bagi seorang muslim untuk mengekang dirinya, menghindari hal-hal yang syubhat, menjauhkan diri dari sesuatu yang akan dapat menjerumuskannya ke dalam lembah yang haram – suatu keadaan yang hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menyelamatkan dirinya.

Barangsiapa yang mengambil rukhshah (keringanan), maka hendaklah sedapat mungkin memilih yang baik, yang jauh kemungkinannya dari dosa. Sebab, bila mendengarkan nyanyian saja begitu banyak pengaruh yang ditimbulkannya, maka menyanyi tentu lebih ketat dan lebih khawatir, karena masuk ke dalam lingkungan kesenian yang sangat membahayakan agama seorang muslim, yang jarang sekali orang dapat lolos dengan selamat (terlepas dari dosa).
Khusus bagi seorang wanita maka bahayanya jelas jauh lebih besar. Karena itu Allah mewajibkan wanita agar memelihara dan menjaga diri serta bersikap sopan dalam berpakaian, berjalan, dan berbicara, yang sekiranya dapat menjauhkan kaum lelaki dari fitnahnya dan menjauhkan mereka sendiri dari fitnah kaum lelaki, dan melindunginya dari mulut-mulut kotor, mata keranjang, dan keinginan-keinginan buruk dari hati yang bejat, sebagaimana firman Allah:
“Hai Nabi katakanIah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu …” (Al Ahzab: 59)
“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya…” (Al Ahzab: 32)
Tampilnya wanita muslimah untuk menyanyi berarti menampilkan dirinya untuk memfitnah atau difitnah, juga berarti menempatkan dirinya dalam perkara-perkara yang haram. Karena banyak kemungkinan baginya untuk berkhalwat (berduaan) dengan lelaki yang bukan mahramnya, misalnya dengan alasan untuk mengaransir lagu, latihan rekaman, melakukan kontrak, dan sebagainya. Selain itu, pergaulan antara pria dan wanita yang ber-tabarruj serta berpakaian dan bersikap semaunya, tanpa menghiraukan aturan agama, benar-benar haram menurut syariat Islam.

Islam itu memang fleksibel kok, tentu yang sudah disesuaikan dengan syariat. Islam itu juga tidak se ‘saklek’ yang dibayangkan. So, sobat sekalian teruslah berkarya Untuk Islam yang mulia ini ^_^

7 thoughts on “Musik itu Halal kok, jika………..

  1. artikel ini sangat di rekomendasikan, asli saya menjadi pede lagi buat maen musik setelah baca artikel ini..

    makasih
    salam kenal..

    kalo ada waktu luang berkunjung baik ya..

  2. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ..
    Maaf saya ikut berkomentar,
    Sudah di jelaskan dalam 4 mazhab bahwa musik itu haram..
    Ini artikel berdasarkan mahdzab apa? Apa hadistnya shahiih?
    Maaf kawan, seandainya musik itu pun mubah, bagi kaum muslim yang taat insyaAllah akan meninggalkan musik, (sikap kehati-hatian)
    Saya mantan seorang pemusik. اَلْحَمْدُلِلّهِ setelah saya meninggalkan musik, hidup saya tenteram, saya punya banyak waktu untuk lebih taat kepada Allah..
    Saya menggunakan telinga saya untuk mendengar pengajian dan Qur’an..
    Saya gunakan mulut saya untuk membaca Qur’an..
    Saya gunakan nikmat sehat untuk melaksanakan shalat jamaah 5 waktu.. اَلْحَمْدُلِلّهِ, اَلْحَمْدُلِلّهِ,اَلْحَمْدُلِلّهِ
    Silahkan anda renungkan. Berapa jam anda mendengarkan musik? Berapa jam anda berlatih musik? Anda rela mengantri untuk menonton konser ber jam jam, tapi anda menunggu antara maghrib dan isya di masjid saja enggan.. Naudzubillah..
    Andaipun musik itu mubah, tidak ada ruginya bagi yg meninggalkan musik.. Sedangkan jika musik itu ternyata haram, bagi yg memubahkannya tentu akan dimintai pertanggung jawaban.. Wallahualambishawab..
    Musik diperbolehkan dalam acara perkawinan dan 2 hari raya besar, selain itu tidak boleh…
    Silahkan kawan2 mencari artikelnya, banyak sekali. Dan tidak ada 1 pun mahzab yg menghalalkan musik. Bahkan banyak sekali hadits shahiih yg mengharamkan musik.
    Salah satu tanda hari kiamat adalah banyaknya pemusik..
    Dan yang paling pedih siksanya di neraka adalah seniman.. (Pemusik termasuk seniman bukan?🙂
    Dan maukah anda sebagai umat penanda hari kiamat? Naudzubillah..
    Saya hanya menyampaikan, tidak memaksakan..
    Saya sudah menunaikan kewajiban saya untuk menyampaikan.. Yang benar itu semata-mata dari Allah swt, yang salah itu adalah dari saya, semoga Allah mengampuni saya dan memaafkan saya.. آمِّينَ
    Assalamu’alaikumwarohmatullahiwabarokatuh…

  3. jazakumullah komennya, semoga sikap kita tidak berlebih-lebihan dalam menyikapi sesuatu. Segala sesuatunya dilakukan dengan sikap tawazun yang seadanya, dan dilakukan secara proporsional. sudah saya sampaikan, tulisan ini sy ambil dri Ulama Yusuf Qordhowi

  4. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh..
    Semoga taufiq dan hidayah dari ALlah beserta kita semua..

    Saya juga dl pemusik, bahkan bbrp lagu islami udah saya buat, akan tetapi saya tinggal kan semua.. mengapa?

    Ada hadist yang menjadi hujjah saya, yaitu:

    “Sungguh, Benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan alat-alat musik (HR. Bukhari)

    Dari hadist tersebut, sudah jelas, alat-alat musik d sandingkan dengan sesuatu yang sudah jelas-jelas haram hukumnya.

    Ya, teman-teman tinggal milih, mau termasuk golongan yang menghalalkan atau tidak.

    Saya hanya menyampaikan apa yang saya tau, untuk melepas kewajiban saya, bukan memakasakan kehendak..

    Wallahu’alam…

    wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh..

  5. Sepanjang kita nggak melalaikan sholat wajib, sunah, ngaji, puasa, dzikir, dan ibadah lain musik ga masalah…. kecuali 5 waktu solat terbengkalai gara2 musik nah itu baru haram…. apakah jika orang melaksanakan tahajud, lalu ngaji dan menunaikan sholat subuh di masjid, tetapi setelah itu menunggu waktu pagi dengan mp3 nan terus dia dianggap berdosa gt? Islam itu moderat, bukan radikal…. Islam damai kok ga serba haram gitu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s